Supir Angkot Menjadi Penyembuh Spiritual: Kisah Saheri, Ayah Hebat yang Membesarkan 5 Anak dengan Hati dan Doa
Namun siapa sangka, pria yang kini menjadi tempat bergantung ribuan pasien ini dulunya adalah seorang supir angkot dan buruh harian. Ia membesarkan 5 orang anak dengan penuh perjuangan, dan kini kelima anaknya telah tumbuh menjadi orang-orang sukses dan mandiri.
Saheri memulai perjalanan hidupnya dari nol. Ia bukan anak orang kaya, tak punya warisan, dan hanya mengandalkan tenaga. “Saya kerja apa saja dulu. Jadi supir angkot, buruh pabrik, dan servis sofa,” kenangnya. Setiap hari ia bekerja dari pagi sampai larut malam demi satu tujuan yaitu memberi makan dan menyekolahkan anak-anaknya. “Kami makan seadanya saja, tapi saya dan istri sepakat bahwa sekolah anak-anak harus berjalan terus, agar menjadi orang yang berguna dan jangan seperti orang tuanya,” ujarnya.
Dengan pendapatan tak seberapa, Saheri dan istri mampu membesarkan kelima anaknya dengan tekun dan kini dua anaknya telah bekerja di instansi pemerintah, membanggakan keluarga, anak keempat kuliah sambil bekerja sebagai karyawan pabrik untuk membantu kebutuhkan harian, anak kelima sedang kuliah gratis berkat beasiswa prestasi dan anak sulungnya telah menikah dan hidup mandiri, tetap dekat dan aktif membantu orangtua. “Anak saya bukan hasil dari orang tua kaya. Tapi mereka dari hasil doa dan kerja keras,” ujar Saheri penuh haru.
Perjalanan Saheri di dunia spiritual dimulai ketika ia mulai mengikuti pengajian, mendalami ilmu islam, dan belajar dari para ustad dan kyai. Ia mempelajari ruqyah islam, terapi energi, herbal, dan pengobatan untuk stroke ringan serta gangguan nonmedis seperti santet, guna-guna, dan gangguan makhluk halus. “Saya bukan paranormal. Saya hanya membantu orang menemukan ketenangan dan kesembuhan dengan doa, ilmu syar’i, dan ikhtiar alami,” kata Saheri.
Seiring waktu nama Saheri dikenal luas. Awalnya hanya tetangga dan warga kampung sekitar yang datang. Lalu pasien mulai berdatangan dari luar kota seperti Bogor, Purwakarta, Tegal, hingga Madiun. Kini pasiennya bahkan berasal dari luar provinsi seperti Sumatera, Kalimantan, dan beberapa dari luar negeri, seperti Malaysia. Ada yang datang langsung, ada pula yang berkonsultasi jarak jauh melalui telepon atau video call.
“Kadang saya sampai bingung, bagaimana nama saya bisa sampai ke Malaysia. Tapi katanya, mereka tahu dari cerita pasien lain yang sembuh,” ujar Saheri dengan wajah bangga. Ia tidak pernah mematok harga “Seikhlasnya. Kalau tidak bisa bayar saya tetap bantu, yang penting mereka bisa sembuh dari sakitnya dan bisa beribadah kembali,” ujarnya.
Meski dikenal dan dihormati banyak orang, Saheri tetap hidup sederhana. Rumahnya masih yang lama, kendaraan pun masih seadanya. Ia menolak dipanggil “guru besar”, “ustad” atau “kyai”. “Saya ini Cuma buruh yang terus belajar,” katanya. “Tapi saya yakin, kalau kita ikhlas menolong, Tuhan yang akan menolong kita.” Anaknya pun belajar apa yang diberikan oleh orangtuanya. Mereka aktif di masyarakat, tak sombong dan tetap memprioritaskan keluarga serta agama.
Saheri
adalah contoh nyata bahwa kesuksesan bukan hanya tentang harta, tapi tentang
keberhasilan membentuk manusia-manusia baik di dunia dan akhirat. Ia
membuktikan bahwa seorang ayah tak kenal lelah, meski hanya dengan setir dan
doa, bisa mencetak anak-anak hebat. Ia mengubah jalan hidupnya dari supir
angkot menjadi penyembuh spiritual yang membawa manfaat bagi ribuan orang. Dari
rumah kecilnya, ia menjangkau hati dan jiwa pasien dari berbagai penjuru,
bahkan hingga laur negeri. Saheri bukan hanya ayah dari lima anak. Ia adalah
ayah bagi banyak harapan.
Reviewed by LintasKota360
on
September 15, 2025
Rating:


Tidak ada komentar