Pelan Tapi Bangkit: Seni Bertahan dalam Hidup

 

(Ilustrasi, Sumber: LintasKota)
By: Zaidan Fakhir

    Depok, LintasKota- Ada masa ketika segalanya terasa berjalan begitu cepat—tuntutan kerja, tekanan sosial, hingga ekspektasi yang tak henti datang. Tapi justru dalam percepatan itu, banyak dari kita yang merasa tertinggal. Merasa lelah, kehilangan semangat, bahkan lupa bagaimana caranya merasa hidup. Di situlah pentingnya seni untuk pelan, untuk bangkit, dan bertahan dalam hidup.

    Saya pernah berada di titik itu—bekerja keras tapi merasa hampa, berkumpul ramai tapi tetap merasa sendiri. Banyak dari kita mengira motivasi adalah energi besar yang datang tiba-tiba, seperti sambaran petir yang membuat kita segera berlari. Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Motivasi sering kali tumbuh pelan, dalam keheningan, dari rasa sakit yang kita peluk diam-diam.

    Menurut Viktor Frankl, seorang psikiater dan penulis buku *Man’s Search for Meaning*, manusia bisa bertahan dalam situasi terburuk jika ia memiliki makna untuk dijalani. “Those who have a ‘why’ to live, can bear with almost any ‘how’.”. Kalimat ini bukan hanya nasihat, melainkan kenyataan psikologis yang ditemukan Frankl saat berada di kamp konsentrasi Nazi. Ketika makna hadir, harapan menyusul.

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 280 juta orang di dunia mengalami depresi. Di Indonesia sendiri, Riskesdas 2018 mencatat sekitar 6,1% penduduk mengalami gangguan mental emosional. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kehilangan semangat atau arah hidup adalah fenomena nyata—dan kita tidak sendiri.

    Sayangnya, di era media sosial, kita disuguhi gambaran kesuksesan orang lain hampir setiap hari. Ini memicu ilusi bahwa kita harus selalu produktif, selalu semangat, dan selalu 'baik-baik saja'. Padahal, seperti yang dikatakan Brené Brown, pakar riset kerentanan dari University of Houston, “You can’t selectively numb emotion.” Ketika kita mencoba menyingkirkan rasa sedih, takut, dan lelah, kita juga kehilangan kapasitas untuk merasakan kebahagiaan.

    Motivasi hidup bukan tentang menjadi luar biasa. Tapi tentang menerima bahwa tidak apa-apa jika kita pelan. Tidak apa-apa jika hari ini belum sempurna. Saya belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu ditunjukkan dalam lari cepat, tapi dalam langkah pelan yang terus berlanjut, bahkan saat tidak ada yang melihat.

    Ada satu titik balik yang saya alami: saat saya berhenti bertanya 'kenapa hidup ini sulit?' dan mulai bertanya 'apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk bertahan?'. Ternyata, jawaban kecil seperti 'mandi pagi', 'berjalan kaki', atau 'menulis jurnal' adalah benih-benih motivasi. Dan dari benih itulah tumbuh harapan.

    Dalam banyak terapi psikologi modern, konsep *baby steps* menjadi dasar pendekatan. Daripada mengejar perubahan besar sekaligus, fokus pada satu langkah kecil setiap hari jauh lebih berkelanjutan. Di sinilah seni pelan tapi bangkit benar-benar terasa nyata. Kita tidak selalu butuh peta lengkap, cukup tahu langkah selanjutnya.

    Mahatma Gandhi pernah berkata, “In a gentle way, you can shake the world.” Saya percaya bahwa bangkit dari keterpurukan tidak selalu berarti membuat gebrakan besar. Sering kali, dunia berubah karena seseorang memilih untuk tidak menyerah hari ini.

    Bangkit bukan berarti tidak pernah jatuh. Tapi tentang bagaimana kita belajar bangun dengan cara yang berbeda setiap kali. Pelan, tapi pasti. Karena di dalam setiap langkah yang kita ambil, ada keberanian untuk hidup. Dan itu lebih dari cukup.

Pelan Tapi Bangkit: Seni Bertahan dalam Hidup Pelan Tapi Bangkit: Seni Bertahan dalam Hidup Reviewed by LintasKota360 on September 15, 2025 Rating: 5

Tidak ada komentar